Kalau kita mendengar kata “memaafkan”, yang terlintas di benak kita adalah ada pihak lain yang harus kita maafkan. Padahal, yang kita maafkan adalah diri kita sendiri ujar Erba Sentanu.

Mekanismenya adalah, kita menerima dan mengakui bahwa seseorang telah menyakiti kita, dan kemudian kita menerima dan kemudian kita menerima dan mengakui perasaan kita ketika disakiti orang tersebut. Itulah arti sesungguhnya dari memaafkan ujar Erbe Sentanu.

Memaafkan adalah kejujuran. Jujur untuk mengakui bahwa kita merasa marah, benci, atau dendam, dan kemudian kita memaafkan perasaan-perasaan tersebut. Jadi, sebenarnya kita berurusan dengan hati kita sendiri, bukan dengan orang lain. Maka, kita harus memaafkan perasaan kita sendiri yang telah merasakan marah, benci, atau kecewa setelah disakiti orang lain.

Itulah sebabnya mengapa Nabi Muhammad SAW bersabda, musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri. Jadi, yang seharusnya kita taklukkan adalah diri kita, perasaan kita sendiri, bukan orang lain.

Untuk menaklukkan alias memaafkan perasaan kita, maka yang harus dilakukan adalah menerima saja perasaan itu. Perasaan atau emosi adalah energi yang bergerak (e-motion : energy in motion). Energi bersifat mengalir, karena itu tidak bisa ditahan. Kalau ditahan, maka dia akan memupuk dan suatu saat akan memaksa keluar dengan kekuatan yang jauh lebih besar. Karena itu, energi atau emosi ini harus diterima dengan sadar, ikhlas dan tanpa penolakan.

Hanya dengan menyadari dan mengizinkan emosi tersebut  hadir di dalam diri, energi ini akan menjadi netral dan kembali menjadi bagian dari diri kita. Rasa tak nyaman yang menyertainya pun akan lenyap.

Lebih dari itu, pertengkaran dan peperangan itu toh ujung-ujungnya mencari jalan untuk damai. Jadi,¬† kenapa tidak berdamai saja dari awal??… (RBS)